Oleh: Temu Sutrisno
Era digital telah mengubah cara manusia memproduksi, menyebarkan, dan mengonsumsi informasi. Media sosial, portal daring, dan aplikasi pesan instan memungkinkan informasi beredar dalam hitungan detik, melampaui batas ruang dan waktu. Namun, kecepatan ini membawa konsekuensi serius: kaburnya batas antara bad news dan good news, antara fake news dan enlightening news. Salah satu fenomena paling mengkhawatirkan dalam lanskap ini adalah munculnya teknologi deepfake yang memperparah krisis kepercayaan publik terhadap informasi.
Dalam praktik jurnalistik klasik, bad news sering dianggap lebih “menjual” dibanding good news. Prinsip lama bad news is good news menemukan relevansinya kembali di era digital, bahkan dalam skala yang jauh lebih masif. Algoritma media sosial cenderung mempromosikan konten yang memicu emosi kuat seperti marah, takut, atau benci dan emosi yang umumnya melekat pada bad news.
Ungkapan bad news is good news sebenarnya merupakan konsep lama dalam dunia jurnalistik yang lahir dari logika pasar media cetak dan penyiaran konvensional. Pada masanya, berita tentang konflik, bencana, skandal, dan kejahatan dianggap memiliki nilai berita tinggi karena mampu menarik perhatian publik dan meningkatkan oplah atau rating. Namun, dalam konteks era digital yang ditandai oleh kecepatan, algoritma, dan banjir informasi, konsep tersebut semakin menunjukkan sifatnya yang usang dan problematik.
Berita tentang konflik, skandal, bencana, dan kejahatan lebih cepat viral dibandingkan kisah inspiratif, inovasi, atau praktik baik di masyarakat. Akibatnya, ruang publik digital dipenuhi narasi negatif yang dapat membentuk persepsi dunia sebagai tempat yang penuh ancaman dan ketidakpastian.
Di ruang digital, dominasi bad news tidak lagi sekadar persoalan daya tarik, melainkan telah berubah menjadi persoalan etika dan dampak sosial. Algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten yang memicu emosi ekstrem, marah, takut, cemas, atau benci. Konten emosi tersebut meningkatkan interaksi pengguna. Akibatnya, bad news diproduksi dan direproduksi secara berlebihan, sering kali tanpa konteks yang memadai.
Ketika bad news terus-menerus membanjiri ruang publik digital, dampaknya bukan lagi sekadar meningkatkan perhatian, tetapi menciptakan kelelahan informasi (information fatigue), kecemasan kolektif, dan sinisme sosial. Publik menjadi terbiasa melihat dunia sebagai ruang konflik tanpa harapan. Dalam kondisi ini, bad news tidak lagi berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang sehat, melainkan berubah menjadi komoditas ketakutan.
Sebaliknya, berita baik (good news) mencerahkan (enlightening news) yang bersifat edukatif dan inspiratif sering dianggap kurang bernilai, karena tidak sensasional. Padahal, dalam perspektif etika komunikasi dan literasi digital, enlightening news justru memiliki fungsi strategis membangun optimisme rasional, memperlihatkan solusi, dan memperkuat kohesi sosial. Kisah keberhasilan pendidikan, inovasi warga, solidaritas sosial, dan praktik etis adalah bagian penting dari realitas yang sering terpinggirkan oleh logika algoritma. Meski tidak bisa dipungkiri masih ada berita-berita praktik kebaikan dan mencerahkan yang viral.
Oleh karena itu, mempertahankan doktrin bad news is good news di era digital bukan hanya tidak relevan, tetapi juga berbahaya. Media dan pengguna perlu menggeser paradigma menuju keseimbangan informasi. Bad news tetap disampaikan sebagai peringatan dan kontrol, tetapi good news dan berita yang mencerahkan harus memperoleh ruang yang setara sebagai sumber pembelajaran dan harapan. Di era digital, nilai berita tidak lagi ditentukan oleh seberapa buruk sebuah peristiwa, melainkan oleh seberapa bermakna informasi tersebut bagi kemanusiaan dan masa depan bersama.
Tipisnya Garis Pembeda
Selain soal muatan negatif dan positif, persoalan penting lain di era informasi adalah perbedaan antara fake news dan enlightening news. Fake news merupakan informasi palsu yang sengaja diproduksi untuk menipu publik, memanipulasi opini, atau meraih keuntungan tertentu, baik politik, ekonomi, maupun sosial. Berita semacam ini kerap dikemas menyerupai berita jurnalistik, lengkap dengan judul provokatif, narasi emosional, serta sumber yang tampak meyakinkan, sehingga sulit dibedakan oleh pembaca awam.
Di era digital yang serba cepat, fake news menyebar luas melalui media sosial dan aplikasi pesan instan dengan memanfaatkan emosi, sensasi, dan prasangka. Dampaknya tidak sekadar menyesatkan, tetapi juga memecah belah masyarakat, memicu konflik, dan merusak kepercayaan publik terhadap media maupun institusi sosial.
Sebaliknya, enlightening news atau berita yang mencerahkan hadir sebagai antitesis. Berita jenis ini bersifat edukatif, inspiratif, dan berorientasi pada penguatan nalar kritis. Enlightening news tidak hanya menyajikan fakta, tetapi juga menghadirkan konteks, nilai kemanusiaan, serta solusi atas persoalan yang diangkat. Tujuannya bukan mengejutkan, melainkan memberdayakan pembaca.
Tantangannya, berita mencerahkan sering kalah viral dibanding kabar palsu yang sensasional. Oleh karena itu, literasi digital menjadi kunci agar masyarakat mampu memilah informasi, memilih kebenaran, dan membangun kesadaran bersama demi kehidupan sosial yang lebih sehat dan beradab.
Puncak Evolusi Fake News
Fenomena deepfake menandai fase baru dan lebih berbahaya dalam sejarah fake news. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence), teknologi deepfake mampu memanipulasi video, audio, dan gambar sehingga tampak sangat realistis. Seseorang dapat “dibuat” mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Berbeda dengan hoaks tradisional berbasis teks atau gambar statis, deepfake menyerang fondasi kepercayaan visual manusia. Selama ini, publik cenderung percaya pada bukti audiovisual dengan asumsi “melihat berarti benar”. Deepfake meruntuhkan asumsi tersebut.
Dampaknya sangat luas. Dalam ranah politik, deepfake dapat digunakan untuk menjatuhkan lawan, memicu konflik, atau memengaruhi hasil kontestasi. Dalam ranah sosial, ia dapat merusak reputasi individu, memicu persekusi, dan menciptakan trauma. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, deepfake berpotensi digunakan untuk penipuan, pemerasan, dan kejahatan berbasis identitas.
Krisis Kepercayaan dan Etika Digital
Meningkatnya fake news dan deepfake memicu krisis kepercayaan publik terhadap media dan informasi digital secara umum. Ketika segala sesuatu bisa dimanipulasi, masyarakat bisa jatuh pada dua ekstrem berbahaya, percaya pada semua informasi atau tidak percaya pada apa pun. Keduanya sama-sama merusak.
Di sinilah pentingnya etika digital. Etika digital tidak hanya menjadi tanggung jawab jurnalis atau platform media, tetapi juga setiap pengguna. Literasi digital harus mencakup kemampuan berpikir kritis, memverifikasi sumber, memahami konteks, dan menyadari bias algoritma.
Platform digital juga memikul tanggung jawab besar. Transparansi algoritma, penandaan konten manipulatif, serta kerja sama dengan pemeriksa fakta menjadi langkah minimal untuk menekan penyebaran fake news dan deepfake. Tanpa komitmen etis dari korporasi teknologi, upaya literasi publik akan berjalan pincang.
Menata Ulang Ruang Informasi Digital
Menghadapi tantangan ini, masyarakat perlu menata ulang cara memaknai bad news, good news, fake news, dan enlightening news. Bad news tetap penting sebagai fungsi kontrol sosial, tetapi harus disajikan secara berimbang dan bertanggung jawab. Good news perlu diperkuat sebagai penyeimbang narasi, bukan sekadar pemanis.
Enlightening news seharusnya menjadi ruang hiburan yang sehat, bukan kendaraan disinformasi. Sementara fake news, terutama yang berbasis deepfake, harus dilawan dengan kombinasi regulasi, teknologi deteksi, dan kesadaran publik.
Era digital tidak mungkin kembali ke masa sebelum internet. Namun, dengan etika, literasi, dan tanggung jawab kolektif, ruang informasi digital masih bisa menjadi sarana pencerahan, bukan sekadar arena manipulasi. Tantangannya besar, tetapi masa depan demokrasi dan kemanusiaan bergantung pada cara kita mengelola kebenaran di dunia digital.*
Artikel ini juga bisa dibaca di, https://mastemu.blogspot.com/2026/01/bbm-subsidi-bersembunyi-dalam-peti.html





