September 20, 2026
Berita  

Simbol Kebijaksanaan, Umat Buddha Sulteng Tuntaskan Pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Palu

Ritual pengecoran bagian Ruppang Buddha Nusantara di Vihara Karuna Dipa Palu, Ahad (12/4). Sumber foto: paluinsight.id

Palu, paluinsight.id – Saṅgha Theravāda Indonesia (STI) memasuki usia setengah abad tahun ini.

Memaknai momentum itu, berdasarkan hasil Rapat Pimpinan II/2025, dibentuklah kepanitiaan Tahun Kencana Setengah Abad STI dengan mengangkat tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”.

Dalam rangkaian tersebut, Panitia Nasional menyelenggarakan berbagai kegiatan; salah satunya pengecoran Rupang Buddha.

Panitia berinisiasi melakukan pengecoran Rupang Buddha Nusantara di berbagai pulau yang mewakili Nusantara, salah satunya di Vihara Karuna Dipa, Palu.

Pada Mei 2025, ditemukan Rupang Buddha di reruntuhan kompleks Candi Sewu. Berdasarkan temuan ini maka Panitia menjadikannya sebagai prototipe dalam pembuatan Rupang Buddha Nusantara. Prototipe Rupang Buddha Nusantara dengan mudrā (sikap tangan) Bhūmisparsa yang memiliki makna “Bumi sebagai saksi dari kumpulan kebajikan”.

Dalam proses pembuatannya, Rupang Buddha dikerjakan seniman Amertha Art Studio, Sugito Sutarmin.

Sebagai informasi, upacara pengecoran Rupang dilaksanakan di berbagai pulau sebagai perwakilan Nusantara. Pulau Sumatra di Kota Medan, Pulau Kalimantan di Kota Samarinda, Pulau Bali di Kota Denpasar, Pulau Sulawesi di Kota Palu, Pulau Jawa di Kota Surabaya, dan terakhir dilaksanakan di Jakarta.

Rupang Buddha bagi umat Buddha merupakan sarana untuk menumbuhkan keyakinan yang didasari pengertian benar, hidup bermoral, kemurahan hati, dan kebijaksanaan.

Pada 12 April 2026, pengecoran Rupang Buddha Nusantara keempat dilaksanakan di Vihāra Karuṇā Dīpa, Palu. Upacara pengecoran ini menjadi simbol persatuan bagi umat Buddha dalam peringatan setengah abad Saṅgha Theravāda Indonesia.

Logam yang digunakan dalam pengecoran ini sepenuhnya adalah donasi dari umat Buddha. Selain itu, dalam upacara ini umat juga turut bertekad dengan niat yang luhur disertai dengan lantunan doa (Paritta Suci) oleh para Bhikkhu yang hadir sebanyak ±30 Bhikkhu dari Saṅgha Theravāda Indonesia.

Pemimpin Upacara Pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Palu, Bhikkhu Dhammasubho Mahāthera menyatakan bahwa Rupang Buddha Nusantara ini menandai setengah abad Saṅgha Theravāda Indonesia sebagai Rupang Buddha yang berharga, monumental, serta historikal.

“Buddha Gautama merupakan pendiri agama Buddha, represetasenya Rupang Buddha. Kita bisa mengenal tidak hanya ajarannya, tetapi juga orangnya,” kata YM. Dhammasubho Mahathera dalam konferensi pers di Vihara Karuna Dipa, Minggu (12/4).

“Pengecoran Ruppang Buddha di Palu merupakan simbol pelibat, dibagi-bagi, setiap bagiannya di cetak di berbagai daerah binaan STI. Palu mewakili Sulawesi, nanti setelah bagian-bagiannya tercetak semua menjadi utuh di Jakarta, bentuk utuh Buddha Ruppang setinggi lima meter. Ini nanti akan ditempatkan di Vihara IKN,” tambahnya.

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Binmas) Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi yang hadir pada momen itu mengatakan, Pemerintah melalui Kemenag mendukung penuh gagasan yang dilakukan STI sebagai instrumen spiritualitas.

‎”Kami dari Kementerian Agama memastikan bahwa apa yang dilakukan telah memenuhi kaidah-kaidah keselamatan kerja. Dari sisi agama, bahwa apa yang dilakukan bukan sekadar menumpahkan timah yang sudah dipanaskan, tetapi  ada satu instrumen spiritualitas itu sendiri,” kata Supriyadi.

‎Menurutnya, pembuatan replika Ruppang Buddha yang ditemukan di Candi Sewu menjadi upaya strategis melestatikan budaya yang telah mengakar di Indonesia.

‎”Ini adalah bagian dari ekosistem moderasi beragama. STI, yang sudah lama berkiprah di bumi Nusantara ini, mengangkat akar budaya kita dengan mengambil ruppang yang betul-betul ada di Indonesia,” Supriyadi menutup.

Upacara pengecoran keempat Rupang Buddha di Vihara Karuna Dipa Palu berlangsung hikmat dengan rangkaian ibadah dari pagi hari hingga malam hari. IN