Juli 24, 2026

Petani Sulteng Beralih Menjual Gabah, Ini Buktinya!

Petani memisahkan gabah dari beras dengan cara tradisional (ilustrasi). Sumber foto: Shutterstock/SERASOOT

Palu, paluinsight.id – Semakin banyak petani di Sulawesi Tengah memilih menjual hasil panennya dalam bentuk gabah dibandingkan beras.

Perubahan pola penjualan tersebut terlihat dari capaian pengadaan gabah Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Sulawesi Tengah yang telah melampaui target tahunan hingga 120 persen.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Sulawesi Tengah, Jusri Pakke, mengatakan realisasi pengadaan gabah hingga saat ini mencapai 16.640 ton atau sekitar 120 persen dari target tahun 2026 yang ditetapkan sebesar 13.900 ton.

Di sisi lain, penyerapan beras dari petani lokal juga terus berjalan dan telah mencapai 10.600 ton setara beras dari target tahunan 11.300 ton setara beras. Meski musim panen utama telah berakhir, Bulog masih terus melakukan pembelian karena sebagian petani masih menyimpan stok hasil panen yang dijual sesuai kebutuhan.

Menurut Jusri, meningkatnya minat petani menjual gabah dipengaruhi berbagai keuntungan yang diperoleh. Selain menghemat biaya produksi sekitar 10 persen karena tidak perlu mengeluarkan biaya pengeringan maupun penggilingan, petani juga menerima pembayaran secara langsung. Bulog sendiri membeli gabah dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram langsung di lokasi sawah.

“Petani langsung mendapatkan uang dan memotong rantai proses yang memakan biaya. Mereka yang sudah merasakan manfaat menjual gabah umumnya merasa lebih diuntungkan,” katanya.

Saat ini penyerapan gabah terbesar berasal dari sentra produksi di Kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Morowali, dan Luwuk. Sementara Kabupaten Tolitoli diproyeksikan menjadi wilayah penyerapan berikutnya.

Untuk memperluas partisipasi petani, Bulog akan mengintensifkan sosialisasi pada musim panen kedua tahun ini, khususnya di daerah-daerah sentra produksi padi. Langkah tersebut diharapkan semakin mendorong petani menjual hasil panennya dalam bentuk gabah.

Meski target pengadaan telah terlampaui, Bulog memastikan penyerapan hasil panen petani tetap berlanjut sebagai bagian dari upaya memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah dan mendukung program swasembada pangan nasional.

“Kami tidak mengenal istilah berhenti menyerap. Semakin banyak yang bisa diserap, semakin baik untuk memperkuat cadangan pangan pemerintah dan mendukung swasembada pangan dari Sulawesi Tengah untuk nasional,” tegas Jusri.

Saat ini Bulog Kanwil Sulawesi Tengah menguasai stok beras sekitar 24.000 ton. Stok tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar, penyaluran bantuan pangan, serta pelaksanaan program stabilisasi pasokan dan harga pangan sepanjang tahun. IN